Dusun Napal Ujan Emas, Kampung di Bengkulu Tengah yang Hilang Ditelan Waktu
BENGKULU TENGAH — Bengkulu dikenal sebagai Bumi Rafflesia, provinsi di pesisir barat Sumatra yang menyimpan banyak kisah tua. Di antara hutan, kebun, dan bukit-bukit di Kabupaten Bengkulu Tengah, terselip sebuah cerita tentang satu dusun yang lenyap tanpa jejak. Namanya Napal Ujan Emas, atau yang lebih akrab disebut Napajemas.
Dusun itu pernah hidup. Pernah berdenyut. Namun kini, setelah lebih dari enam dekade, Napajemas hanya tinggal cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Jejak yang Tinggal Cerita
Di Desa Sukarami, Kecamatan Karang Tinggi, tinggal seorang lelaki sepuh bernama Hairum (67). Ia Ketua Adat Desa Sukarami, sekaligus saksi hidup terakhir dari dusun yang kini telah berubah menjadi belantara dan kebun warga.
Sore itu, Hairum baru pulang dari kebun. Tubuhnya renta, namun ingatannya masih tajam ketika menyebut tanah kelahirannya.
“Dusun itu sudah tidak ada lagi,” katanya pelan. “Sekarang sudah jadi hutan dan kebun.”
Napajemas berada sekitar tujuh kilometer dari pusat Desa Sukarami. Dahulu, dusun ini dihuni lebih dari 50 kepala keluarga. Namun sejak sekitar tahun 1954, seluruh penduduknya pergi meninggalkan rumah, ladang, dan kenangan.
Napal yang Menangis Emas
Nama Napal Ujan Emas bukan muncul tanpa sebab. Di bagian bawah dusun, mengalir Sungai Penawai. Di tepi sungai itu berdiri tebing napal menyerupai dinding batu.
Dari celah-celahnya, air memercik seperti hujan kecil. Saat cahaya matahari menyentuh percikan itu, air tampak berkilau laksana emas.
Masyarakat menyebutnya “Napal Menangis”.
“Itulah asal nama Napal Ujan Emas,” ujar Hairum.
Terowongan Ajaib di Bawah Tanah
Legenda Napajemas tak berhenti di sana. Di bawah dusun, konon terdapat terowongan alami sepanjang kurang lebih lima kilometer. Terowongan ini dipercaya menembus hingga Desa Tanjung Raman, Kecamatan Taba Penanjung.
Tak ada yang pernah berani masuk. Namun para leluhur melakukan pembuktian sederhana.
Lesung bambu dihanyutkan dari Sungai Penawai. Beberapa waktu kemudian, benda itu muncul di Sungai Kemumu, Tanjung Raman. Sebaliknya, gulungan daun pisang yang dihanyutkan dari Kemumu, ditemukan di Penawai.
“Itulah tanda terowongan itu tembus,” kata Hairum.
Induk Emas dan Penjajah Belanda
Di dalam terowongan itu pula, tersimpan legenda paling menggetarkan: induk emas sebesar kambing dewasa. Emas itu dipercaya dijaga ikan plus berukuran raksasa.
Sekitar tahun 1940-an, cerita ini sampai ke telinga penjajah Belanda. Mereka datang, mengintai, dan merencanakan pembelahan terowongan untuk mengambil emas tersebut.
Kedatangan itu membuat warga resah. Perlahan, mereka mulai mengungsi ke wilayah yang kini menjadi Desa Sukarami, Durian Demang, dan Penanding.
Saat Belanda datang untuk kedua kalinya, niat mereka gagal. Konon, induk emas itu berpindah secara gaib ke Gunung Bungkuk.
“Emas itu tidak pernah berhasil diambil,” tutur Hairum.
Harimau Turun Gunung
Ancaman bagi Napajemas bukan hanya penjajah. Harimau Sumatra juga menjadi alasan besar ditinggalkannya dusun itu.
Harimau turun gunung dan memasuki pemukiman. Fenomena ini oleh warga disebut “musim panas” — pertanda bahaya.
Harimau diketahui berkeliaran hingga Napajemas, Kota Niur, dan Tanjung Raman. Meski tak ada korban jiwa di Napajemas, ketakutan membuat warga memilih pergi.
“Kami tidak berani lagi keluar rumah,” kenang Lamsir (67), tokoh masyarakat Durian Demang.
Pohon Benuang Sakti dan Siamang Putih Tangan
Napajemas juga dikenal dengan Pohon Benuang Sakti, pohon raksasa yang ditunggu Siamang Putih Tangan.
Siamang ini diyakini memiliki kesaktian. Jika ia bersuara ke satu arah mata angin, maka warga di arah itu dipercaya akan meninggal.
Warga mencoba menebang pohon tersebut. Namun keajaiban terjadi. Pohon yang ditebang setengah, kembali utuh keesokan harinya.
Hingga akhirnya, seorang orang pintar memberi syarat: 40 bujang dan 40 gadis harus dihadirkan. Setelah syarat dipenuhi, pohon itu berhasil ditebang.
Batangnya jatuh di wilayah Bengkulu Tengah. Ranting dan daunnya mengarah ke Kepahiang dan Rejang Lebong. Konon, wilayah yang terkena daun menjadi subur, sementara Bengkulu Tengah justru gersang.
Asal-usul Suku Paljemas
Napajemas adalah tanah awal Suku Paljemas atau Suku Satu. Leluhur mereka terdiri dari tiga poyang: Semidang, Gumay, dan Suku Satu.
Dalam sidang pembagian bahasa daerah, Poyang Suku Satu datang terlambat. Akibatnya, ia menerima bahasa campuran dari berbagai suku: Jawa, Minang, Rejang, Serawai, Lembak, dan Melayu.
Dari sanalah lahir bahasa Paljemas, bahasa unik yang hingga kini masih digunakan terbatas di kalangan keturunan suku tersebut.
“Bahasa kami campur-campur,” kata Hairum sambil tersenyum. “Itulah Paljemas.”
Dusun yang Hilang, Cerita yang Bertahan
Kini, Napal Ujan Emas tak lagi ada di peta. Tak ada rumah. Tak ada jalan. Hanya hutan dan kebun yang menutupinya.
Namun bagi Hairum dan para keturunan Paljemas, Napajemas tak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup dalam cerita. Dalam ingatan. Dan dalam bahasa yang masih mereka jaga hingga hari ini. ***
